Nostalgia Martabak Kubang di Bandung
Sewaktu masih SMA di Padang, saya dan teman-teman sering makan martabak mesir di Restoran Kubang, Jl. Prof. Muahammad Yamin, Padang. Biasanya setelah makan martabak kami duduk-duduk di Pantai Padang menikmati malam dengan deburan ombak dan hembusan angin malam yang dingin. Martabak mesir adalah sebutan orang Sumbar terhadap martabak telur atau martabak asin yang biasa dijumpai di Jawa dan daerah lain di luar Sumbar (selain martabak asin tentu ada martabak manis, orang Padang menyebutnya martabak horas. Ada-ada saja namanya
). Tidak jelas asal mulanya kenapa dinamakan martabak mesir, apakah memang berasal dari Mesir atau pedagang awalnya orang keturunan Arab. Biasanya pedagang martabak mesir itu baru buka sore hari. Waktu yang pas menikmati martabak mesir adalah malam hari.
Sepintas martabak mesir memang mirip dengan martabak asin. Isinya daging cincang dan bawang daun yang dikocok dengan telur. Bedanya, martabak mesir dimasak dengan mentega sedangkan martabak asin dimasak dengan minyak goreng. Selain itu, martabak mesir dimakan dengan kuah khusus yang terbuat dari larutan kecap yang sudah ditambahi dengan cuka, irisan bawang bombay, dan potongan cabe rawit atau cabe hijau. Rasanya pedas-manis-asin-asam, campur-campur, gitu. Kalau martabak asin yang di Jawa biasanya dimakan dengan acar ketimun dan saos sambal.

Di Padang, martabak mesir yang terkenal dan ramai pengunjungnya ya Restoran Kubang itu. Kubang adalah nama sebuah nagari di Kabupaten Limapuluhkota di Sumatera Barat. Orang-orang Kubang dikenal dengan keahliannya membuat martabak mesir, roti cane, martabak manis, dan anek makanan lainnya. Karena nama Kubang sudah melekat dengan martabak mesir, maka martabak mesir sering dinamakan martabak kubang saja. Setiap malam restoran ini selalu penuh dengan orang-orang yang ingin makan martabak mesir, roti cane (di Aceh namanya roti canai), sate padang, nasi goreng, dan mie goreng. Para perantau yang pulang ke Padang dipastikan tidak melewatkan kesempatan mengunjungi restoran ini bersama keluarga.
Di Bandung cukup banyak yang berjualan martabak mesir. Beberapa rumah makan Padang seperti rumah makan kapau dan rumah makan Sederhana menyediakan gerai martabak mesir. Rasanya tidak jauh beda dengan martabak mesir di Restoran Kubang itu. Tetapi, menikmati martabak mesir khas Restoran Kubang itu tetap jadi keinginan terpendam.
Menjelang bulan puasa yang lalu, saya ‘dikagetkan’ dengan munculnya sebuah restoran martabak mesir yang bernama Restoran Kubang masakan Hayuda (mungkin H. Hayuda adalah nama pemilik Restoran Kubang). Di spanduknya tertulis restoran ini adalah cabang Restoran Kubang yang berada di Jl. Muhammad Yamin Padang itu. Wah, kebetulan nih, kata saya. Selain disini, restoran Kubang itu mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Tangerang, dan Depok. Mungkin pemilik Restoran Kubang itu tahu kalau martabak mesirnya sudah punya nama, sehingga ia membuka cabang di pulau Jawa. Restoran Kubang masakan Hayuda yang diBandung itu berada di Jl. Terusan Jakarta, sebelum supermarket Borma Antapani.


Terkenang dengan martabak mesir yang di Padang itu, suatu kali saya mencoba menyinggahi restoran ini kala pulang ke rumah. Restoran ini ternyata tidak ramai pembelinya, mungkin karena harga-harga makanannya relatif mahal kali ya. Saya memesan martabak mesir yang biasa. Harganya Rp 16.000 (martabak asin ukuran biasa yang dijual pedagang gerobak paling banter harganya Rp 10.000). Setelah dicoba, memang rasanya mantap, beda sekali dengan martabak mesir yang biasa saya beli di rumah makan kapau itu. Dan pedasnya itu, ampuun. Sampai ngos-ngosan ini lidah. Sambil makan maryabak mesir Kubang ini, terbayang-bayang waktu masih remaja dulu di Padang. Nostalgia lah. Mau coba? Datanglah ke Antapani, Jl. Terusan Jakarta, sebelum Borma.