BANDUNG

kota tujuan wisata

Bersama Buah Hati August 26, 2008

Filed under: Uncategorized — kugelisah @ 1:32 pm
Tags:

Seorang ibu sedang bermain-main dengan anaknya di tengah ribuan santri yang sedang mempersiapkan diri melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad. Aksi yang berlangsung di Solo, Jumat (24/2) siang itu diikuti oleh sedikitnya 20 ribu umat Islam dari berbagai kota sekitar.

Advertisements
 

Romantika Santri

Filed under: Uncategorized — kugelisah @ 1:08 pm
Tags:


Babakan Ciwaringin, Cirebon, 8 Oktober 2004

Menganyam tali kasih, mungkin merupakan hal biasa bagi manusia-manusia gaul. Tapi bagi komunitas santri, apalagi yang mendalami ilmu agama di pondok-pondok salafy, berduaan bukanlah peristiwa mudah. Ada banyak kaidah fiqh yang mesti dijadikan rujukan dan bahan pertimbangan. Beruntung, kedua sejoli itu sudah terbebas dari segala dalil yang membatasi mereka berduaan. Ada banyak orang di sekitar mereka. Selamatlah mereka di dunia dan akhirat. Amin

 

my immortal

Filed under: Potrait — kugelisah @ 12:59 pm

 

Martabak Kubang

Filed under: Food — kugelisah @ 12:45 pm

Nostalgia Martabak Kubang di Bandung

Sewaktu masih SMA di Padang, saya dan teman-teman sering makan martabak mesir di Restoran Kubang, Jl. Prof. Muahammad Yamin, Padang. Biasanya setelah makan martabak kami duduk-duduk di Pantai Padang menikmati malam dengan deburan ombak dan hembusan angin malam yang dingin. Martabak mesir adalah sebutan orang Sumbar terhadap martabak telur atau martabak asin yang biasa dijumpai di Jawa dan daerah lain di luar Sumbar (selain martabak asin tentu ada martabak manis, orang Padang menyebutnya martabak horas. Ada-ada saja namanya :-)). Tidak jelas asal mulanya kenapa dinamakan martabak mesir, apakah memang berasal dari Mesir atau pedagang awalnya orang keturunan Arab.  Biasanya pedagang martabak mesir itu baru buka sore hari. Waktu yang pas menikmati martabak mesir adalah malam hari.

Sepintas martabak mesir memang mirip dengan martabak asin. Isinya daging cincang dan bawang daun yang dikocok dengan  telur. Bedanya, martabak mesir dimasak dengan mentega sedangkan martabak asin dimasak dengan minyak goreng. Selain itu, martabak mesir dimakan dengan kuah khusus yang terbuat dari larutan kecap yang sudah ditambahi dengan cuka, irisan bawang bombay, dan potongan cabe rawit atau cabe hijau. Rasanya pedas-manis-asin-asam, campur-campur, gitu. Kalau martabak asin yang di Jawa biasanya dimakan dengan acar ketimun dan saos sambal.

Martabak kubang

Di Padang, martabak mesir yang terkenal dan ramai pengunjungnya ya Restoran Kubang itu. Kubang adalah nama sebuah nagari di Kabupaten Limapuluhkota di Sumatera Barat. Orang-orang Kubang dikenal dengan keahliannya membuat martabak mesir, roti cane, martabak manis, dan anek makanan lainnya. Karena nama Kubang sudah melekat dengan martabak mesir, maka martabak mesir sering dinamakan martabak kubang saja. Setiap malam restoran ini selalu penuh dengan orang-orang yang ingin makan martabak mesir, roti cane (di Aceh namanya roti canai), sate padang, nasi goreng, dan mie goreng. Para perantau yang pulang ke Padang dipastikan tidak melewatkan kesempatan mengunjungi restoran ini bersama keluarga.

Di Bandung cukup banyak yang berjualan martabak mesir.  Beberapa rumah makan Padang seperti rumah makan kapau dan rumah makan Sederhana menyediakan gerai martabak mesir.  Rasanya tidak jauh beda dengan martabak mesir di Restoran Kubang itu.  Tetapi, menikmati martabak mesir khas Restoran Kubang itu tetap jadi keinginan terpendam.

Menjelang bulan puasa yang lalu, saya ‘dikagetkan’ dengan munculnya sebuah restoran martabak mesir yang bernama Restoran Kubang masakan Hayuda (mungkin H. Hayuda adalah nama pemilik Restoran Kubang). Di spanduknya tertulis restoran ini adalah cabang Restoran Kubang yang berada di Jl. Muhammad Yamin Padang itu. Wah, kebetulan nih, kata saya. Selain disini, restoran Kubang itu mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Tangerang, dan Depok.  Mungkin pemilik Restoran Kubang itu tahu kalau martabak mesirnya sudah punya nama, sehingga ia membuka cabang di pulau Jawa. Restoran Kubang masakan Hayuda yang diBandung itu berada di Jl. Terusan Jakarta, sebelum supermarket Borma Antapani.

Mratbak kubang

Martabak kubang 2

Terkenang dengan martabak mesir yang di Padang itu, suatu kali saya mencoba menyinggahi restoran ini kala pulang ke rumah. Restoran ini ternyata tidak ramai pembelinya, mungkin karena harga-harga makanannya relatif mahal kali ya. Saya memesan martabak mesir yang biasa. Harganya Rp 16.000 (martabak asin ukuran biasa yang dijual pedagang gerobak paling banter harganya Rp 10.000). Setelah dicoba, memang rasanya mantap, beda sekali dengan martabak mesir yang biasa saya beli di rumah makan kapau itu. Dan pedasnya itu, ampuun. Sampai ngos-ngosan ini lidah. Sambil makan maryabak mesir Kubang ini, terbayang-bayang waktu masih remaja dulu di Padang. Nostalgia lah. Mau coba? Datanglah ke Antapani, Jl. Terusan Jakarta, sebelum Borma.

 

Palai Bada

Filed under: Food — kugelisah @ 12:42 pm

Menemukan “Palai Bada” di Bandung

Secara tidak sengaja saya menemukan samba masakan kampuang yang jarang ditemukan di perantauan, yaitu palai bada. Sebuah gerobak warung makan sederhana di dekat tempat ngetem bis DAMRI di Jalan Dipati Ukur (depan Kampus Unpad), menyediakan palai bada itu. Warung makan Mande Kanduang namanya. Tidak setiap hari warung makan itu menyediakan palai. Jarang-jarang ada rumah makan Padang perantauan, termasuk di Padang sendiri, yang menyedian masakan urang kampuang seperti ini. Waktu saya ke warung itu cukup kaget juga melihat ada beberapa palai bada di atas meja.

Palai adala istilah umum untuk masakan Minang yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar di atas bara api. Mirip pepes lah kalau di Bandung. Lauk yang biasa dipalai adalah ikan (sehingga namanya palai ikan), meskipun ada juga yang mempalai ayam. Lauk yang akan dipalai dibalur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan jahe. Perasan jeruk nipis ditambahkan untuk membuat bumbu-bumbu tadi harum. Ikan yang sudah dicampur dengan parutan kelapa tadi lalu dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus. Setelah pengukusan, masakan tadi masih perlu dibakar di atas bara api untuk menciptakan sensasi harum.

Nah, samba palai (bukan sambal lho, samba adalah istilah Minang untuk masakan lauk pauk atau sayuran yang dimakan dengan nasi) yang saya temukan adalah palai bada. Bada adalah sebutan untuk ikan teri, baik teri dari danau maupun teri dari laut. Palai bada ini enak dimakan dengan nasi yang masih panas, ditemani dengan sambal lado (nah ini beneran sambal) dan rebusan daun singkong atau lapap ketimun. Sudah lamaaaa saya tidak makan nasi dengan palai bada ini. Duluuuu waktu masih di Padang, ibu saya cukup sering memasak palai ikan. Kalau sudah makan dengan palai ikan, makan jadi batambuah dibauatnya.

Ini fotonya:

Ini isinya setekah daun pisang dibuka (warna kuning karena bumbu kunyit):

Waduh, jadi lapar nih.

 

MARILLION

Filed under: Music — kugelisah @ 12:39 pm

Pertama Kali Kenal MARILLION

Di tahun 1983 musik prog lagi hancur lebur, luluh lantak berantakan. Yes menelorkan “90125″ yang beda konsep denganscript-marillion.jpg musik akarnya dia, Genesis dengan “abacab” yang juga beda. Kabarnya grup prog kena imbas aliran punk dan gelombang baru (new wave) dengan adanya The Police, Mo, OMD, Duran Duran dsb. Tiap hari saya memantau perkembangan musik dengan nangkring di jl Veteran Bandung, markas besar YESS music cassette. Hampir tiap hari saya ke toko ini gak pernah ada yang baru yang menyenangkan hati.
Sampai suatu hari pas saya ke situ, si I’an bilang: “Tot, ada band baru namanya …” (dia nyebutin nama tapi saya gak ngeh, yang saya denger pokoknya belakangnya ‘ion’ gitu). “Nih, kamu dengerin yah ..” dia memasukkan kaset ke dalam tape deck TEAC telanjang yang ada di tokonya, sambil membesarkan volume ampli merek LEAK nya. Terus mengumandanglah sebuah olah vokal aca pella merdu dengan suara vokal yang mengingatkan saya ke Peter Hammill (Van der Graff Generator), Derek Shulman (Gentle Giant) dan Peter Gabriel (Genesis). Indah banget suaranya dan melantunkan lirik pembuka yang kemudian saya tahu bunyinya seperti ini:
So here I am once (teng!)

In the playground of the broken hearts
One more experience, one more entry in a diary, self-penned
Yet another emotional suicide
Overdosed on sentiment and pride

Too late to say I love you
Too late to restage the play
Abandoning the relics in my playground of yesterday

(terus bunyi kibor menyayat hati, nunjek kalbu, nohok sukma membuat nggeblak jiwa …)

I’m losing on the swings
I’m losing on the roundabouts
I’m losing on the swings
I’m losing on the roundabouts
Too much, too soon, too far to go, too late to play
The game is over, the game is OOOOOVERRRRRR …!!!!

The game is OOOOOverrrrrr …. JRENG JRENG JRENG JRENG!!!! biyuuuuuuuh nngueblaaakkkkk!!!!

Langsung dah itu kaset telanjang tanpa bungkus, saya bawa pulang dan bilang ke I’an: “Ini musik keren kudu segera di produksi!!!”.

Sampe kos2an .. saya setel satu kaset bolak-balik selama 3 jam tanpa ada jeda mau ke belakang pipis sekalipun saya tahan .. lha musike top markotop tenaaaaaaaaaaaaaaaannn!!!! Uediyan dah!!! Lega banget menikmatinya!

Salam,

G

script-inlay.jpg
 

untitled August 22, 2008

Filed under: Uncategorized — kugelisah @ 11:21 pm
Tags:

Jalan Kebonjati. Bandung, Indonesia. 22 July 2007.